2.1 Parasetamol
Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek
antipiretik yang telah digunakan sejak tahun 1893, efek antipiretiknya
ditimbulkan oleh gugus amino-benzen, menurunkan suhu badan tinggi dengan cara
menimbulkan dilatasi pembuluh darah perifer dan mobilatasi air hingga terjadi
pengenceran darah dan pengeluaran keringat (Siswandono, 2000).

Struktur
Kimia Parasetamol
Pemerian : Serbuk
hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut
dalam air mendidih dan dalam NaOH 1N; mudah larut dalam etanol.
Jarak lebur :
Antara 168⁰ dan 172⁰ (Anonim, 1995).
Parasetamol
(asetaminofen) mempunyai daya kerja analgetik, antipiretik, tidak mempunyai
daya kerja anti radang dan tidak menyebabkan iritasi serta peradangan lambung. Hal
ini disebabkan Parasetamol bekerja pada tempat yang tidak terdapat peroksid
sedangkan pada tempat inflamasi terdapat lekosit yang melepaskan peroksid
sehingga efek anti inflamasinya tidak bermakna. Parasetamol berguna untuk nyeri
ringan sampai sedang, seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan
keadaan lain (Katzung, 2004).
Parasetamol
(asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara kerja
menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP).
Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan
tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam
sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas. (Lusiana
Darsono, 2002).
Parasetamol merupakan
pilihan lini pertama bagi penanganan demam dan nyeri sebagai antipiretik dan
analgetik. Parasetamol digunakan bagi nyeri yang ringan sampai sedang. Kontra
Indikasinya yaitu terhadap Penderita gangguan fungsi hati yang berat dan
penderita hipersensitif terhadap obat ini.
Pada penggunaan per
oral parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum
dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah peberian.
Efek samping tak jarang terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan
kelainan darah.
Overdose
dapat menimbulkan antara lain mual, muntah dan anoreksia. Penanggulangannya
dengan cuci lambung, disamping perlu pemberian zat penawar (asam-amino
N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10 jam setelah
intoksikasi. Wanita hamil dapat menggunakan parasetamol dengan aman, juga
selama laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis tinggi
dapat memperkuat efek antikoagulansia tetapi pada dosis biasa tidak interaktif
(Tjay, 2007)
2.2 Tablet
Tablet
merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan
penambahan bahan tambahan yang sesuai. Tablet dapat berbeda-beda dalam ukuran,
bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancurnya, dan dalam aspek lainya
tergantung pada cara pemakaian dan metode pembuatan tablet tersebut. Kebanyakan
tablet digunakan pada pemberian obat secara oral (Ansel.H.C, 1989).
2.2.1
Jenis-jenis Tablet
Macam-macam jenis
tablet berikut ini:
1. Tablet Kompresi, yaitu tablet kompresi yang dibuat dengan
mencetak pada punch dan die dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk
tablet dan ukuran, biasanya ke dalam bahan obatnya, diberi tambahan sejumlah
bahan pembantu antara lain:
a. Pengenceran atau
pengisi yang ditambahkan jika perlu ke dalam formulasi supaya membentuk ukuran
tablet yang diinginkan.
b. Pengikat atau
perekat, yang membantu pelekatan partikel dalam formulasi, memungkinkan granul
dibuat dan dijaga keterpaduan hasil akhir tabletnya.
c. Penghancur atau
bahan yang dapat membantu penghancuran, akan membantu memecah atau
menghancurkan tablet setelah pemberian sampai menjadi partikel-partikel yang
lebih kecil, sehingga lebih mudah diabsorpsi.
d. Antirekat pelincir
atau zat pelincir yaitu zat yang meningkatkan aliran bahan memasuki cetakan
tablet dan mencegah melekatnya bahan ini pada punch dan die serta
membuat tablet-tablet menjadi bagus dan berkilat.
e. Bahan tambahan lain
seperti zat warna dan zat pemberi rasa.
2.
Tablet Kompresi Ganda, yaitu tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya
memerlukan lebih dari satu kali tekanan. Tablet berlapis dibuat dengan cara
memasukkan satu campuran obat ke dalam cetakan dan ditekan, demikian pula
campuran obat sebagai lapisan berikutnya dimasukkan ke dalam cetakan yang sama
dan ditekan lagi, untuk membentuk dua atau tiga lapisan tergantung pada jumlah
obat yang ditambahkan secara terpisah dalam satu tablet berlapis (Ansel.H.C,
1989).
2.2.2 Cara Penggunaan Tablet
Cara
penggunaan tablet dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Tablet Oral
- Tablet biasa yaitu tablet yang dicetak, tidak disalut
diabsorpsi disaluran cerna dan pelepasan obatnya cepat untuk segera memberikan
efek terapi.
Contoh:
tablet parasetamol
-
Tablet Kunyah, dikunyah dulu baru
ditelan.
Contoh:
Antasida.
2. Tablet penggunaannya melalui rongga mulut
-
Tablet Bukal, disisipkan diantara gusi dan pipi.
Contoh:
Tablet Progesteron
- Tablet Sublingual, diletakkan dibawah lidah. Tablet ini
cepat melarut dan bahan obatnya cepat diabsorpsi
Contoh:
Tablet Isosorbit dinitrat
- Tablet Hisap = Troches = LozengsTablet dihisap dan obatnya
terlarut sedikit demi sedikit dan diserap di rongga mulut
Contoh:
Antiseptika dan Local anestesi.
3. Tablet penggunaannya di bawah kulit
-
Tablet Implantasi, ditanamkan didalam jaringan di bawah kulit.
Tujuannya
untuk pemakaian tempo lama.
Contoh:
Tablet Hormon KB
- Tablet Hipodermik, tablet ini sebelum digunakan dilarutkan
dulu
dalam
pelarutnya.
Contoh: Atropin Sulfat
4. Tablet Everfessen, tablet ini dilarutkan dulu dalam air kemudian
diminum. Contoh: Tablet Ca Sandoz
5. Tablet Vagina, pemakaiannya melalui vagina. Bentuknya
pipih oval ujungnya lebih kecil. Tablet ini mengandung antibiotika dan
antibakteri (Ansel.H.C, 1989).